Kisah Bu Jannah Jannah menetes di tanah garing Lombok. Musim kemarau yang tak kunjung usai telah menguji kesabaran hatinya. Sumur dan irigasi yang biasanya menjadi sumber kehidupan kini mengering. Ia hanya bisa menatap ladang jagung yang retak-retak. Impian untuk panen raya kini terasa jauh.
Kisah Bu Jannah di tanah gersang ini menjadi cermin bagi banyak petani. Tanaman jagungnya yang baru tumbuh layu sebelum waktunya. Semua usahanya seperti sia-sia. Hati Bu Jannah pilu, membayangkan jerih payahnya mengolah tanah yang kini tak lagi ramah. Kehidupan terasa semakin berat.
Janji manis untuk cucu tersayang kini terasa pahit. Ia telah berjanji akan membelikan sepeda baru dari hasil panen jagungnya. Namun, harapan itu sirna bersama embun pagi yang tak lagi turun. Matanya berkaca-kaca melihat ladang yang dulunya hijau kini menjadi cokelat.
Setiap hari adalah perjuangan bagi Bu Jannah. Ia tetap datang ke ladang, berharap ada keajaiban yang terjadi. Menggali tanah yang keras, mencari sisa-sisa kelembaban. Ia tak ingin menyerah begitu saja. Kisah Bu Jannah adalah cerminan dari kegigihan seorang petani.
Meskipun harapan menipis, Bu Jannah tetap berusaha. Dengan sisa-sisa tenaga, ia menaburkan benih jagung baru. Meskipun tak tahu apakah benih itu akan tumbuh, ia melakukannya dengan penuh keyakinan. Ia percaya bahwa setiap usaha pasti akan membuahkan hasil.
Masyarakat sekitar tahu betul Kisah Bu Jannah ini. Mereka sering datang membantunya. Membawakan air dari sumber yang jauh, membantu mengolah ladang. Solidaritas dan semangat gotong royong terjalin erat. Di tengah kesulitan, Bu Jannah tak sendiri.
Sebab, harapan itu tetap ada. Sebuah sumur bantuan akan dibangun oleh para dermawan. Ini adalah secercah cahaya di tengah kegelapan. Kisah Bu Jannah kini bukan hanya tentang penderitaan, tetapi juga tentang kekuatan komunitas.
Bu Jannah kini tersenyum tipis. Ia tahu bahwa cobaan ini adalah ujian. Dengan bantuan sesama, ia yakin bisa bangkit. Ia akan menepati janjinya untuk sang cucu. Sepeda baru itu pasti akan ia dapatkan.
Musim hujan akan segera tiba. Ia akan menanam jagung lagi, dengan harapan yang lebih besar. Ia yakin, kali ini panen akan melimpah. Dan sepeda itu akan terwujud. Ia siap menanti.
Sebab, Bu Jannah tahu, hidup ini seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Tapi dengan semangat dan bantuan orang sekitar, semua rintangan bisa dihadapi. Ia tak lagi sendiri. Itulah akhir dari perjuangannya
