Di tengah pesatnya perkembangan industri manufaktur di wilayah Jawa Timur, sektor pertanian non-padi mulai menunjukkan potensi yang menjanjikan bagi ekonomi kerakyatan. Saat ini, wilayah Gresik kembangkan budidaya jamur tiram sebagai komoditas alternatif yang mampu memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat pedesaan. Jamur tiram dipilih karena memiliki masa panen yang relatif singkat dan permintaan pasar yang terus stabil, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun untuk memenuhi kebutuhan industri kuliner yang semakin menjamur di kawasan perkotaan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendiversifikasi sumber pendapatan petani lokal.
Proses pengembangan ini dimulai dengan pelatihan intensif mengenai pembuatan media tanam atau baglog yang berkualitas. Dalam budidaya jamur, suhu dan kelembapan ruangan menjadi faktor penentu keberhasilan produksi. Petani di Gresik diajarkan cara mengatur sirkulasi udara di dalam rumah jamur (kumbung) agar pertumbuhan miselium dapat berjalan optimal tanpa terganggu oleh kontaminasi bakteri atau jamur liar lainnya. Pemanfaatan limbah penggergajian kayu sebagai bahan utama media tanam juga menjadi salah satu bentuk penerapan ekonomi sirkular yang ramah lingkungan.
Kelebihan dari komoditas ini adalah sifatnya yang organik dan kaya akan nutrisi, sehingga sangat diminati oleh konsumen yang mulai peduli pada pola hidup sehat. Pihak pengembang di Gresik mendorong para petani untuk tidak hanya menjual produk mentah, tetapi juga mulai melirik potensi olahan seperti keripik jamur atau kaldu jamur instan. Dengan memberikan nilai tambah pada hasil budidaya jamur, margin keuntungan yang didapat oleh petani bisa meningkat drastis dibandingkan hanya menjual hasil panen segar di pasar tradisional. Kreativitas dalam pengemasan juga menjadi fokus agar produk lokal Gresik mampu bersaing dengan produk dari daerah lain di rak-rak supermarket modern.
Dukungan pemerintah kabupaten Gresik terlihat dari kemudahan akses permodalan dan bantuan peralatan bagi kelompok tani yang ingin menyeriusi bidang ini. Selain itu, jaringan pemasaran mulai diperluas dengan menggandeng berbagai restoran dan katering besar di wilayah sekitarnya. Strategi pengembangan budidaya jamur ini juga menyasar para pemuda desa agar mereka tertarik kembali ke sektor pertanian dengan cara yang lebih modern dan praktis. Pertanian tidak lagi identik dengan kerja keras di bawah terik matahari, melainkan bisa dilakukan di dalam ruangan dengan teknologi kontrol lingkungan yang sederhana namun efektif.
