Persoalan mengenai Industri vs Tani kini sedang memanas di wilayah Gresik, Jawa Tengah. Sebagai salah satu kota penyangga industri terbesar, Gresik terus mengalami perluasan kawasan pabrik yang secara perlahan mulai menggerus lahan-lahan produktif milik petani lokal. Protes demi protes dilayangkan oleh para petani yang merasa ruang gerak mereka semakin terjepit oleh tembok-tembok beton. Masalah utamanya bukan hanya soal hilangnya lahan bercocok tanam, melainkan berubahnya fungsi lahan resapan air yang kini tertutup bangunan industri berskala besar.
Dalam dinamika Industri vs Tani, perubahan ekosistem ini berdampak langsung pada siklus pengairan sawah di sekitarnya. Lahan yang dulunya berfungsi menyerap air hujan kini beralih fungsi menjadi kawasan industri, yang mengakibatkan drainase alami terganggu. Akibatnya, saat musim hujan tiba, sawah-sawah milik warga yang tersisa seringkali terendam banjir karena air tidak lagi memiliki tempat parkir alami. Sebaliknya, saat musim kemarau, ketersediaan air tanah menurun drastis karena serapan air yang berkurang, sehingga petani kesulitan mendapatkan sumber pengairan untuk tanaman mereka.
Ketegangan Industri vs Tani ini juga memicu kekhawatiran akan ketahanan pangan lokal di Gresik. Jika pembangunan pabrik tidak dikendalikan dengan tata ruang yang berpihak pada agraria, maka profesi petani akan punah secara perlahan di wilayah ini. Para petani menuntut pemerintah daerah untuk lebih tegas dalam menetapkan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) agar tidak mudah dialihfungsikan oleh para investor. Mereka berharap ada zona merah yang tidak boleh disentuh oleh aktivitas industri guna menjaga keseimbangan ekologi dan kedaulatan pangan daerah.
Dampak sosial dari fenomena Industri vs Tani juga mulai terlihat dari beralihnya profesi generasi muda desa. Banyak anak muda yang lebih memilih menjadi buruh pabrik daripada meneruskan usaha tani orang tua mereka yang semakin tidak menentu. Hal ini menciptakan kerentanan baru, di mana ketergantungan pada sektor industri menjadi sangat tinggi, sementara sektor pertanian yang menjadi fondasi dasar kebutuhan hidup justru ditinggalkan. Para petani senior berharap ada kebijakan yang mampu mengharmonisasikan kehadiran pabrik tanpa harus mematikan sumber penghidupan para pengolah tanah.
