Perubahan iklim global kini memberikan tantangan nyata bagi ketahanan pangan lokal, terutama dengan adanya fenomena Cuaca Ekstrem El Nino yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan di wilayah Gresik. Suhu udara yang meningkat drastis disertai dengan minimnya curah hujan membuat cadangan air tanah menyusut, sehingga tanaman pangan maupun hias milik warga terancam layu dan mati. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian atau sekadar hobi berkebun di rumah, pemahaman mengenai strategi adaptasi sangatlah krusial agar investasi tanam yang telah dilakukan tidak terbuang sia-sia akibat panas yang menyengat.
Langkah mitigasi pertama yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan teknik mulsa pada permukaan tanah di sekitar perakaran. Dalam menghadapi Cuaca Ekstrem, penggunaan mulsa organik seperti jerami atau sabut kelapa berfungsi sebagai pelindung tanah agar kelembapan tidak cepat menguap akibat paparan sinar matahari langsung. Selain itu, warga disarankan untuk mengubah jadwal penyiraman menjadi saat dini hari atau larut malam. Penyiraman di tengah hari yang terik justru akan memicu stres pada tanaman karena penguapan terjadi terlalu cepat sebelum air sempat diserap secara optimal oleh akar, yang pada akhirnya dapat merusak jaringan tanaman secara permanen.
Pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai pupuk cair organik juga merupakan bagian dari strategi bertahan di tengah Cuaca Ekstrem yang melanda. Pupuk cair membantu tanaman mendapatkan nutrisi tambahan yang mudah diserap tanpa membebani tanah yang sudah mulai mengeras akibat kekeringan. Selain itu, penggunaan jaring peneduh atau paranet sangat direkomendasikan untuk tanaman yang memiliki tingkat ketahanan panas rendah. Dengan mengurangi intensitas cahaya matahari yang mengenai daun secara langsung, suhu mikro di sekitar tanaman akan tetap terjaga, sehingga proses fotosintesis tetap bisa berjalan meskipun kondisi lingkungan luar sangat tidak bersahabat.
Penting juga bagi warga untuk mulai beralih menanam varietas tanaman yang lebih toleran terhadap kekeringan sebagai antisipasi jangka panjang. Bagian dari strategi menghadapi Cuaca Ekstrem adalah dengan melakukan diversifikasi tanaman, misalnya menanam palawija atau kaktus hias yang tidak membutuhkan banyak air. Dengan melakukan manajemen sumber daya air yang bijaksana, seperti menampung sisa air cucian beras untuk menyiram, kita dapat membantu menjaga ekosistem hijau di lingkungan rumah tetap lestari. Kesadaran kolektif dalam menjaga tanaman adalah langkah kecil untuk menjaga kesejukan udara di Gresik yang kian terasa panas akibat dampak pemanasan global.
