Lahan pertanian di wilayah Gresik saat ini menghadapi tantangan serius yang mengancam produktivitas jangka panjang. Banyak petani yang mengeluhkan kondisi tanah mereka yang semakin keras, sulit dicangkul, dan memerlukan air dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari biasanya. Fenomena ini bukanlah tanpa sebab, melainkan dampak akumulatif dari penggunaan Pupuk Kimia Sintetis yang dilakukan secara berlebihan selama puluhan tahun. Ketergantungan pada asupan nutrisi instan telah membuat ekosistem tanah kehilangan kemampuan alaminya untuk meregenerasi diri, sehingga struktur tanah berubah menjadi padat dan tidak remah.
Secara teknis, penggunaan Pupuk Kimia Sintetis yang tidak terkontrol menyebabkan sisa-sisa residu garam kimia menumpuk di lapisan atas tanah. Residu ini bertindak seperti semen yang mengikat partikel tanah menjadi gumpalan keras, sehingga pori-pori tanah tertutup. Akibatnya, akar tanaman kesulitan menembus kedalaman tanah untuk mencari nutrisi, dan mikroorganisme tanah yang bermanfaat seperti cacing dan bakteri pengurai pun perlahan mati. Kehilangan biodiversitas bawah tanah ini membuat tanah menjadi “mati” secara biologis, meskipun secara kimiawi mungkin masih terlihat memiliki kandungan unsur hara tertentu.
Dampak buruk lainnya adalah penurunan efisiensi penyerapan air. Tanah yang sudah terpapar Pupuk Kimia Sintetis dalam dosis tinggi dalam waktu lama akan memiliki daya serap (infiltrasi) yang sangat rendah. Saat musim kemarau, tanah akan pecah-pecah (retak) dengan sangat lebar, sementara saat musim hujan, air hanya akan menggenang di permukaan karena tidak bisa meresap ke dalam tanah. Kondisi ini membuat tanaman menjadi sangat rentan terhadap cekaman cuaca ekstrem. Petani pun terjebak dalam lingkaran setan, di mana mereka merasa perlu menambah dosis pupuk lebih banyak lagi untuk mendapatkan hasil yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
Untuk memulihkan kondisi tanah di Gresik, diperlukan langkah radikal dalam mengalihkan pola pemupukan. Edukasi mengenai bahaya Pupuk Kimia Sintetis harus digencarkan dengan mengenalkan kembali penggunaan bahan organik seperti kompos dan pupuk kandang. Bahan organik berfungsi sebagai pembenah tanah yang mampu mengurai residu kimia dan mengembalikan struktur tanah menjadi gembur. Proses pemulihan ini memang tidak instan dan memerlukan waktu beberapa musim tanam, namun merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan aset tanah agar tetap bisa diwariskan kepada generasi mendatang dalam keadaan subur.
